Batam, Kepri – Pantun Melayu kembali menggema sebagai pengingat nilai luhur kehidupan masyarakat pesisir. Ungkapan “Terbang jelatik di waktu pagi, terbang merbah menuju muara, yang molek itu budi, yang indah itu bahasa” disampaikan Khairul Bin A. Latif, Ketua DPP Komunitas Seni dan Cagar Budaya Melayu Kepulauan Riau, dalam sebuah pertemuan budaya di Batam, Sabtu. Ia menegaskan bahwa pantun tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pesan moral yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Khairul, burung jelatik dan merbah melambangkan perjalanan hidup yang terarah menuju kebaikan. Sementara itu, budi pekerti dan tutur bahasa menjadi ukuran kemuliaan seseorang di tengah masyarakat. Ia menilai tantangan zaman modern sering membuat generasi muda melupakan sopan santun serta adab berbahasa yang menjadi jati diri Melayu. Karena itu, pelestarian pantun, seni, dan nilai budaya harus terus digerakkan melalui pendidikan, kegiatan komunitas, dan ruang publik.
Khairul juga mengajak masyarakat untuk menjadikan budaya sebagai pedoman hidup, bukan sekadar simbol seremonial. Ia berharap orang tua, tokoh adat, dan pemerintah dapat bersinergi menanamkan nilai budi bahasa sejak dini agar identitas Melayu tetap terjaga di tengah arus globalisasi. Baginya, kekuatan budaya terletak pada praktik nyata dalam sikap saling menghormati, bertutur lembut, serta menjaga persatuan.
Melalui pesan pantun tersebut, Khairul menegaskan bahwa kemajuan zaman tidak boleh menghapus akar tradisi, melainkan harus berjalan seiring demi masa depan yang beradab. (Ferdian)



Komentar