Beranda / Berita Utama / Gus Yahya Hadiri Napak Tilas NU Bangkalan: Perkuat Jati Diri

Gus Yahya Hadiri Napak Tilas NU Bangkalan: Perkuat Jati Diri

Napak Tilas Pendirian NU: Menghidupkan Kembali Semangat Sejarah di Bangkalan

Bangkalan, Jawa Timur – Suasana khidmat menyelimuti Kabupaten Bangkalan pada Minggu, 4 Januari 2025, saat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, memimpin langsung kegiatan napak tilas isyaroh pendirian NU. Acara bersejarah ini dihadiri oleh seribu peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah, menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengenang dan meresapi momen penting dalam sejarah organisasi Islam terbesar di dunia ini.

Perjalanan napak tilas ini bukan sekadar sebuah kegiatan fisik, melainkan sebuah upaya mendalam untuk mengambil berkah dari peristiwa sakral yang menjadi tonggak berdirinya NU. Gus Yahya menekankan bahwa napak tilas ini adalah momentum bagi seluruh warga jam’iyah NU untuk terhubung kembali dengan akar sejarah dan semangat para pendiri.

Makna Mendalam di Balik Napak Tilas

Gus Yahya menjelaskan bahwa inti dari kegiatan ini adalah menghidupkan kembali ingatan akan peristiwa penting yang melahirkan NU. Peristiwa sakral yang dimaksud merujuk pada “isyaroh” atau petunjuk dari Syaikhona Kholil yang kemudian dijalankan oleh KH As’ad Syamsul Arifin dan disampaikan kepada KH Hasyim Asy’ari. Petunjuk inilah yang menjadi fondasi awal pendirian Nahdlatul Ulama.

“Di dalam peristiwa itu ada barokah besar. Saat ini momentum kita semua warga jam’iyah NU, terutama jemaah yang ikut perjalanan napak tilas, mengambil berkah kembali,” ujar Gus Yahya. Ia menambahkan bahwa napak tilas ini juga menjadi sarana untuk memperkuat dan menghidupi “ruh jam’iyah NU” yang harus dijaga keberlangsungannya selamanya.

Liverpool sepakati transfer Barcola dari PSG senilai Rp2,5 triliun, pecahkan rekor Ligue 1

Lebih jauh, Gus Yahya berharap agar keberkahan dari peristiwa pendirian NU ini dapat menjadi perekat yang semakin memperkuat ikatan di antara sesama warga NU. Ia mendoakan agar NU senantiasa tumbuh menjadi organisasi yang semakin kuat, membawa maslahat, dan lestari sebagai pembawa berkah bagi kemaslahatan bangsa Indonesia serta seluruh umat manusia.

Rute Napak Tilas yang Sarat Makna

Perjalanan napak tilas ini dirancang dengan cermat untuk menelusuri jejak-jejak historis pendirian NU. Rute yang ditempuh memiliki makna simbolis yang kuat, menghubungkan berbagai lokasi penting yang terkait dengan sejarah organisasi ini.

  • Titik Awal di Bangkalan: Kegiatan napak tilas dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Bangkalan. Pondok pesantren ini menjadi saksi bisu dari petunjuk spiritual yang menjadi cikal bakal NU, menjadikannya titik awal yang sangat relevan.

  • Menuju Pelabuhan Kamal: Setelah dari pondok pesantren, para peserta melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Kamal. Lokasi ini menjadi gerbang penting untuk berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, melambangkan perjalanan NU yang melintasi berbagai daerah.

    Aturan Baru BGN: Tiga Pemimpin SPPG Tak Hadir, Dapur MBG Dilarang Masak

  • Ziarah ke Makam Sunan Ampel: Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berziarah ke Makam Sunan Ampel di Surabaya. Sunan Ampel merupakan salah satu dari Walisongo yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa, dan merupakan salah satu tokoh yang dihormati oleh para pendiri NU. Ziarah ini menjadi pengingat akan akar keislaman Nusantara yang mendalam.

  • Mengunjungi Kantor Pertama NU: Para peserta juga berkesempatan mengunjungi kantor pertama NU di Surabaya. Kantor ini menjadi saksi awal perjuangan dan pergerakan organisasi, tempat para pendiri merumuskan gagasan dan strategi awal.

  • Puncak Perjalanan di Jombang: Perjalanan napak tilas ini akan ditutup dengan kunjungan ke Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Pondok pesantren yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari ini merupakan salah satu pilar utama NU dan menjadi pusat kegiatan intelektual serta pergerakan organisasi selama bertahun-tahun.

KH Imam Buchori, yang merupakan cicit dari Syaikhona Kholil, menjelaskan bahwa rute ini dipilih untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para peserta mengenai sejarah pendirian NU, mulai dari petunjuk awal hingga perkembangan organisasinya.

Melalui napak tilas ini, diharapkan semangat para pendiri NU dapat terus tertanam dalam diri setiap warga, memperkuat komitmen untuk menjaga dan mengembangkan organisasi ini demi kemaslahatan umat dan bangsa.

2.700 Dapur MBG Siap Beroperasi, Papua dan Maluku Jadi Prioritas Utama

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×