Peringkat Keempat Ekonomi Syariah Indonesia di Dunia
Industri ekonomi syariah Indonesia menempati peringkat keempat dunia setelah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Rangking ini didasarkan pada data dari State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi yang signifikan dalam industri ekonomi syariah global.
Deputi Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, Moh. Nuryazidi, menyampaikan bahwa berdasarkan laporan terkini SGIE Report, ekonomi syariah Indonesia mencapai peringkat keempat. Pencapaian ini didukung oleh sektor seperti modest fashion, makanan halal, serta media dan rekreasi halal. Kekuatan sektor-sektor ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.
Menurut Nuryazidi, generasi muda memiliki peran strategis dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional melalui peningkatan literasi masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi yang efektif dan dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Sekarang kekuatan itu bukan cuma di perusahaan besar atau pemerintah, tapi juga ada di media sosial. Satu konten bikin bisa dilihat ribuan bahkan jutaan orang. Dan itu bisa jadi pintu buat orang lain mulai mengerti ekonomi syariah. Karena kalau literasi meningkat, efeknya besar sekali: masyarakat bisa naik level dari cuma beli, jadi bikin; dari ikut tren, jadi pencipta tren,” ujar Nuryazidi di Badung, Bali, pada Kamis (25/6).
Pendapat tersebut disampaikan Nuryazidi dalam Training of Trainer (ToT) Youth Content Creator Rohis Indonesia di Badung, Bali, pada 23–25 Juni 2026. Peserta ToT merupakan pengurus Rohani Islam (Rohis) SMA dan SMK dari 34 provinsi di Indonesia.
Dalam ToT tersebut, para peserta memperoleh penguatan kepemimpinan, literasi digital, ekonomi dan keuangan syariah, serta keterampilan memproduksi konten media sosial yang kreatif dan edukatif. Program ini merupakan kolaborasi antara Direktorat PAI Kemenag dengan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia.
Sebagaimana diketahui, setiap SMA dan SMK memiliki ekstrakurikuler Rohis. Kehadiran Rohis diharapkan tidak hanya menjadi ruang kreativitas ekstrakurikuler bagi siswa di luar kelas, tetapi juga menjadi wadah untuk pengembangan pemahaman tentang nilai-nilai syariah.
Nuryazidi menambahkan bahwa pengurus Rohis memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak literasi ekonomi dan keuangan syariah di kalangan pelajar. Dengan kemampuan komunikasi yang baik dan pemanfaatan teknologi digital secara kreatif, mereka dapat membantu memperluas pemahaman masyarakat mengenai gaya hidup halal, kewirausahaan syariah, serta berbagai peluang yang tersedia dalam industri halal nasional.
Kehadiran pengurus Rohis diharapkan dapat memperkuat narasi keislaman yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan, sekaligus meningkatkan literasi masyarakat terhadap berbagai peluang ekonomi syariah di Indonesia.
Sementara itu, kolaborasi Kemenag dengan DEKS BI diharapkan menjadi langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan era digital, sekaligus memperkuat peran Rohis sebagai motor penggerak kebaikan, inovasi, dan literasi syariah bagi generasi muda Indonesia.
Di tempat yang sama, Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) M. Munir berpesan bahwa Rohis bukan sekadar ekstrakurikuler. Pengurusnya harus memiliki nilai-nilai kepemimpinan yang kuat. Pengurus Rohis memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter dan pola pikir generasi muda.
Oleh karena itu, anggota Rohis perlu didorong untuk tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolah, tetapi juga mampu hadir di ruang digital sebagai penyebar nilai-nilai Islam yang moderat, inspiratif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Pengurus Rohis harus menjadi agent of change, agent of development, dan agent of control. Mereka harus mampu menjadi agen perubahan yang positif, terus mengembangkan kapasitas diri, serta mampu memberikan kontrol terhadap berbagai informasi yang beredar di media sosial,” ujar Munir.
Menurut dia, penguasaan ruang digital menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda saat ini. Di tengah derasnya arus informasi dan beragam narasi yang beredar di media sosial, siswa Rohis perlu memiliki kemampuan komunikasi digital yang baik agar dapat menghadirkan konten keislaman yang mencerahkan, menyejukkan, dan memberikan solusi bagi masyarakat.
Selain itu, Munir menilai bahwa generasi muda juga perlu memahami perkembangan ekonomi dan keuangan syariah sebagai bagian dari upaya membangun peradaban Islam yang maju dan berdaya saing. Melalui pemahaman yang baik, pengurus Rohis diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi yang bermanfaat kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar.



Komentar