Perubahan Budaya Kerja di Jepang: Celana Pendek Kini Diperbolehkan di Kantor
Pekerja kantoran di berbagai negara biasanya dikenal dengan penampilan yang rapi dan formal. Mereka umumnya mengenakan celana panjang dan kemeja yang terlihat rapi. Namun, di negara tertentu, aturan ini mulai berubah.
Di Jepang, pemerintah Tokyo akhir-akhir ini melonggarkan aturan berpakaian kerja yang selama ini sangat ketat. Pekerja kini diperbolehkan mengenakan celana pendek ke kantor pada musim panas ini. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap peningkatan suhu dan kekhawatiran akan krisis energi akibat konflik di Timur Tengah.
Kebijakan ini merupakan bagian dari pembaruan dari kampanye “Cool Biz” yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Jepang sejak tahun 2005. Sebelumnya, pegawai hanya dianjurkan melepas jas dan dasi saat musim panas. Kini, aturan tersebut diperluas dengan memperbolehkan penggunaan celana pendek di lingkungan kerja.
Pemerintah Metropolitan Tokyo juga mengajak pekerja untuk menjaga konsumsi energi melalui pengaturan jam kerja, kebiasaan sehari-hari, hingga pilihan pakaian yang lebih sejuk. Menurut laporan The Japan News mengutip Fortune, pegawai pemerintah Tokyo sudah mulai bekerja menggunakan kaus dan celana pendek untuk menghadapi cuaca panas. Para pekerja juga dianjurkan masuk kerja lebih pagi dan bekerja dari rumah jika memungkinkan.
Langkah tersebut diambil setelah Jepang memperketat sistem peringatan heat stroke atau serangan panas. Pada musim panas 2025 lalu, lebih dari 100.000 warga Jepang dilaporkan harus dilarikan ke rumah sakit akibat cuaca ekstrem antara Mei hingga September.
Selain dipicu suhu yang terus meningkat, Jepang juga menghadapi ancaman lonjakan biaya energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Jepang diketahui mengimpor sekitar 95% minyaknya dari kawasan Timur Tengah, sebagian besar melewati Selat Hormuz yang kini menjadi titik rawan akibat konflik Iran dan perang AS-Israel.
Perubahan Budaya Kerja di Berbagai Negara
Selama ini, memakai celana pendek ke kantor dianggap tabu di Jepang, terutama untuk pekerja kantoran. Namun perubahan iklim dan tekanan ekonomi membuat pemerintah mulai mengubah pendekatan terhadap budaya kerja.
Bukan cuma Jepang, sejumlah negara Asia juga mulai menyesuaikan pola kerja demi menghemat energi. Vietnam meminta perusahaan mengizinkan karyawan bekerja dari rumah untuk mengurangi kebutuhan transportasi. Sementara Filipina dan Sri Lanka mendorong sistem kerja empat hari seminggu.
Perdebatan soal celana pendek di kantor sendiri masih berlangsung di berbagai negara. Survei Ipsos dan Wall Street Journal pada 2023 menunjukkan 41% warga Amerika menilai pria tidak pantas memakai celana pendek ke kantor dalam kondisi apa pun.
Namun budaya kerja pasca-pandemi Covid-19 dan masuknya generasi Z ke dunia kerja mulai mengubah standar berpakaian formal. Profesor desain dan fashion dari Parsons School of Design, Hazel Clark mengatakan, generasi muda mendorong tren pakaian kerja yang lebih santai.
“Generasi muda berpakaian lebih kasual dan itu memberi dampak besar. Hal-hal akan berubah ketika semakin banyak anak muda masuk ke lingkungan korporasi,” ujarnya.
Meski begitu, sebagian ahli etika kerja tetap menilai celana pendek belum sepenuhnya aman digunakan di kantor karena batasan soal panjang dan model dianggap terlalu subjektif.
Tren Pakaian Kerja yang Berkembang
Perubahan dalam standar pakaian kerja mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi yang terjadi di berbagai belahan dunia. Di tengah tantangan iklim dan kebijakan energi yang semakin ketat, banyak perusahaan dan pemerintah mulai mempertimbangkan kenyamanan dan efisiensi dalam kebijakan berpakaian.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren pakaian kerja yang lebih santai mulai merambah ke berbagai sektor. Mulai dari kantor-kantor kecil hingga perusahaan besar, banyak organisasi mulai menerima gaya berpakaian yang lebih fleksibel. Hal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mencerminkan pergeseran nilai-nilai di dunia kerja.



Komentar