Pemimpin Muhammadiyah Minta Umat Islam Bersikap Bijak dalam Perbedaan Waktu Puasa Ramadan
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyerukan kepada umat Islam untuk tidak terjebak dalam perdebatan teknis terkait perbedaan waktu dalam mengawali ibadah puasa Ramadan tahun ini. Menurutnya, keberagaman dalam menentukan awal Ramadan adalah bagian dari ruang ijtihad yang seharusnya tidak memicu sikap saling menyalahkan atau merasa paling benar sendiri antara kelompok satu dengan lainnya.
Muhammadiyah akan memulai puasa pertama Ramadan pada Rabu, 18 Februari 2026. Dalam pernyataannya, Haedar menyampaikan bahwa di tengah perbedaan tersebut, seluruh umat harus dapat menyikapinya dengan cerdas dan penuh semangat toleransi. Ia menekankan bahwa perbedaan tersebut harus disikapi dengan arif dan bijaksana karena tujuan utama dari ibadah puasa adalah meningkatkan kualitas takwa, baik secara pribadi maupun kolektif.
Haedar mengajak setiap muslim untuk mengalihkan fokus pada hal-hal substantif mengenai bagaimana puasa dapat membantu mencapai ketaqwaan sejati. Hal ini juga dapat terwujud dalam ketaatan menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan, serta menghadirkan kebaikan hidup yang utama. Dengan bekal kecerdasan dan keimanan yang kuat, ia optimistis umat Islam akan mampu meraih derajat kemuliaan yang lebih tinggi tanpa terganggu oleh hiruk-pikuk perbedaan awal Ramadan.
Momentum untuk Memperbaiki Akhlak dan Karakter
Haedar berharap puasa Ramadan 1447 H ini dapat menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak harian serta akhlak publik setiap individu. Ia berpesan agar ibadah ini dijalankan dengan tenang, damai, dan penuh kematangan karakter guna membentuk muslim yang unggul atau umat terbaik.
Ia juga menekankan bahwa dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan mampu meningkatkan kualitas kerohanian sekaligus memperdalam penguasaan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Jika kualitas umat tidak mengalami peningkatan secara signifikan, Haedar khawatir kejayaan dan martabat dalam menciptakan peradaban maju akan sulit untuk dimenangkan.
Aspek Ekonomi dan Kesiapan Umat
Selain dimensi spiritual, Haedar juga menyoroti aspek ekonomi yang menurut dia masih memerlukan kerja keras dan kesungguhan agar umat Islam tidak menjadi fatalis atau sekadar menyerah pada nasib. Ia menilai bahwa puasa seharusnya menjadi latihan praktis bagi umat untuk hidup lebih efisien, prihatin, dan hemat, yang mana nilai-nilai tersebut merupakan pangkal dari kemajuan ekonomi untuk bisa setara dengan peradaban lain di dunia.
Pemantauan Hilal Awal Ramadan 1447 H
Sementara itu, Kementerian Agama akan menggelar pemantauan hilal awal Ramadan 1447 H pada Selasa, 17 Februari 2026. Pemantauan dilakukan pada 96 lokasi di Indonesia. Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis menyebut awal Ramadhan 1447 H berpotensi berbeda di antara umat Islam Indonesia. Cholil mengajak umat untuk menyikapinya dengan dewasa.
“Hampir dipastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadhan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang sudah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari ini. Karena menggunakan hisab sekaligus kalender global,” kata Cholil.
Sidang isbat akan dihadiri berbagai pihak, antara lain duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, perwakilan Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, pakar falak dari berbagai ormas Islam, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, pondok pesantren, dan Tim Hisab Rukyat Kemenag.



Komentar