Beranda / Berita / Fakta mengerikan di Cisarua: gawir 80×40 meter di Puncak runtuh

Fakta mengerikan di Cisarua: gawir 80×40 meter di Puncak runtuh

Penyebab Dahsyatnya Longsoran di Desa Pasirlangu

Longsoran yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tidak bisa disebut sebagai bencana alami biasa. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akhirnya mengungkap fakta-fakta penting mengenai penyebab mengerikan dari peristiwa ini. Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh Plh Kepala PVMBG, Edi Slameto, bencana ini merupakan hasil dari “kolaborasi” antara faktor geologi dan kondisi cuaca ekstrem.

Panjang Lintasan Longsoran yang Membayangi

Menurut data yang telah diidentifikasi, panjang lintasan longsoran mencapai angka fantastis, yaitu 3,7 kilometer. Perjalanan material longsoran dimulai dari ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di titik tersebut, tebing setinggi 80 meter dengan lebar 40 meter runtuh akibat ketidakstabilan lereng.

“Panjang aliran bagian atas lereng mencapai 1,7 kilometer yang menggerus zona hutan,” jelas Edi dalam jumpa pers di Kantor PVMBG, Jumat (30/1/2026). “Kemudian, bagian bawah sekitar 2 kilometer menerjang lahan pertanian dan pemukiman warga.”

Efek ‘V’ yang Mematikan

Salah satu faktor penting yang memperparah dampak longsoran adalah bentuk kontur lembah yang berbentuk huruf V. Bentuk ini menyebabkan penyempitan aliran, sehingga energi dorong menjadi sangat kuat ketika material longsoran tertahan dan kemudian meluncur deras ke bawah.

Material longsoran yang terdiri dari tanah residu tebal hasil pelapukan piroklastik tua Gunung Burangrang kehilangan kekuatan gesernya saat jenuh air. Akibatnya, tanah berubah menjadi aliran bahan rombakan (debris flow) yang sanggup menyapu apa pun di jalurnya.

Prediksi Skor dan Susunan Pemain Liverpool vs Nottingham Forest Liga Inggris 2026/2027

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Bencana

PVMBG menegaskan bahwa tragedi di Cisarua ini dipicu oleh empat faktor utama yang saling berkaitan:

  • Batuan Gunung Api Tua: Tanah yang sudah melapuk lanjut dan sangat rentan.
  • Morfologi Curam: Kemiringan lereng mencapai 35 hingga 55 derajat.
  • Tata Guna Lahan: Penggunaan lahan yang tidak tepat di area berisiko.
  • Curah Hujan Ekstrem: Intensitas hujan yang mencapai lebih dari 220 mm/hari.

“Penyebab longsor Cisarua ini multifaktor, tidak ada faktor tunggal di sini,” tegas Edi. “Jika salah satu faktor saja tidak terpenuhi, misalnya tidak ada hujan terus menerus, maka longsor besar ini tidak akan terjadi.”

Peringatan Tekanan Air Pori

Hujan ekstrem menjadi pemicu akhir (trigger) yang meningkatkan tekanan air pori di dalam tanah. Hal ini menyebabkan kegagalan lereng secara masif. Kondisi geologi yang sudah rapuh karena usia batuan yang tua membuat kawasan Pasirlangu menjadi sangat rentan ketika dihantam hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.

Wanda Hamidah Mundur dari One Piece Club Indonesia, Komentar Soal Israel-Palestina

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×