Konsistensi Harga Jahitan Selama 40 Tahun
Slamet Mulyo, seorang penjahit di Semarang, telah menjalani profesinya selama kurang lebih 40 tahun tanpa pernah menaikkan ongkos jahitnya. Keputusan ini dilakukan karena ia ingin tetap memberikan layanan yang terjangkau bagi pelanggan, terutama orang tua siswa yang memiliki keterbatasan biaya. Dengan memprioritaskan kepuasan pelanggan dan membantu kebutuhan masyarakat, Slamet tetap mempertahankan tarif lama meskipun biaya produksi terus meningkat.
Awal Karier dan Pengembangan Keterampilan
Awal karier Slamet dimulai dengan membantu memasang kancing. Ia kemudian belajar sendiri dengan mengamati proses menjahit, hingga akhirnya mampu membuat berbagai jenis pakaian, termasuk jas. Proses belajar mandiri ini membuatnya menjadi ahli dalam bidangnya. Seiring waktu, ia semakin percaya diri dan mampu menangani pesanan yang lebih kompleks.
Permintaan Seragam Sekolah yang Meningkat
Menjelang tahun ajaran baru, permintaan pembuatan seragam sekolah mulai meningkat. Namun, kenaikan harga bahan seperti kain dan benang tidak membuat Slamet menaikkan biaya jasa jahitnya. Ia memilih tetap menggunakan tarif lama untuk tetap membantu pelanggan. Saat ini, usaha jahit miliknya di Jalan Lamper Tengah VI Blok S, RT 03 RW 07, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, ramai dipenuhi pesanan.
Ia memperkirakan aktivitas jahit seragam akan terus meningkat hingga Agustus 2026. Bagi Slamet, kepuasan pelanggan dan membantu kebutuhan masyarakat menjadi alasan utama untuk tetap bertahan dengan harga lama meski biaya produksi terus mengalami kenaikan.
Pesanan yang Terus Berdatangan
Slamet menyebutkan bahwa pesanan yang masuk masih terus berdatangan. Selain sekira 20 stel yang telah selesai dikerjakan, masih ada sekira 10 stel seragam lain yang sedang dalam proses penjahitan. Tak hanya melayani warga Kota Semarang, hasil jahitan Slamet juga dipesan pelanggan dari sejumlah daerah sekitar seperti Demak, Salatiga, dan Ungaran.
Tantangan Kenaikan Harga Bahan Baku
Di tengah ramainya pesanan tersebut, Slamet menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku. Harga kain seragam sekolah yang sebelumnya sekira Rp40 ribu per meter kini naik menjadi kisaran Rp50 ribu per meter. Sementara kain berkualitas yang biasa digunakan untuk jas maupun pakaian kerja mengalami kenaikan sekira 10 hingga 15 persen.
Meski begitu, dia tetap mempertahankan ongkos jahit di kisaran Rp190 ribu hingga Rp200 ribu per stel untuk kain yang dia beli sendiri. Tarif tersebut masih lebih murah dibandingkan sejumlah tempat lain yang sudah mematok harga Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per stel.
Alasan Tetap Memperoleh Keuntungan
Slamet tetap memperoleh keuntungan meski tidak menaikkan tarif. Menurut dia, usaha jahit lebih mengandalkan keterampilan daripada besarnya modal. “Keuntungan tetap ada. Kerjaan ini lebih mengandalkan keahlian, bukan banyak modal,” katanya.
Belajar Otodidak dan Pengalaman Berpuluh Tahun
Pria yang belajar menjahit secara otodidak itu telah menggeluti profesi tersebut selama sekira empat dekade. Awalnya, ia memulai pekerjaannya dari membantu memasang kancing, kemudian belajar sendiri dengan mengamati proses menjahit, hingga akhirnya mampu membuat berbagai jenis pakaian, termasuk jas.
Selain seragam sekolah, Slamet juga menerima pesanan jas dengan ongkos jahit mencapai sekira Rp2 juta per stel. Biaya tersebut belum termasuk kain utama karena pelanggan membawanya sendiri, sedangkan ongkos mencakup pengerjaan lengkap beserta furing dan bahan pendukung lainnya.
Musim Sibuk dan Kebutuhan Orang Tua Siswa
Bagi Slamet, musim penerimaan peserta didik baru menjadi satu di antara periode paling sibuk dalam setahun. Pada hari-hari biasa, pesanan jahitan cenderung sepi dan lebih banyak berasal dari pembuatan busana hajatan maupun pakaian pengantin.
Sementara itu, tingginya biaya pengadaan seragam juga dirasakan para orangtua siswa. Faris (40), warga Mijen Kota Semarang, masih mencari alternatif yang lebih murah untuk kebutuhan seragam anaknya yang akan masuk SD kelas 1. “Anak saya masuk SD kelas 1. Yang saya dengar, tiga set seragam ongkosnya bisa mencapai sekira Rp800 ribu.”
“Ini kan masih MPLS, jadi saya masih mencari seragam cadangan yang harganya lebih terjangkau,” pungkas dia.



Komentar