Beranda / Berita / Tanah Ambles di Gunungkidul: Lubang Bumi Kecil yang Mengancam

Tanah Ambles di Gunungkidul: Lubang Bumi Kecil yang Mengancam

Peristiwa Tanah Ambles di Gunungkidul, Yogyakarta



YOGYAKARTA – Peristiwa tanah ambles kembali terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kejadian ini terjadi di Padukuhan Bolang, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Panggang. Fenomena yang terjadi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan masyarakat sekitar.

Pandangan Ahli Geologi tentang Tanah Ambles

Guru Besar Bidang Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Wahyu Wilopo, memberikan penjelasan mengenai fenomena tanah ambles yang terjadi di daerah tersebut. Menurutnya, kejadian ini termasuk dalam kategori sinkhole, meskipun ukurannya relatif kecil.

“Untuk kejadian di Gunungkidul yang tanah ambles itu kan sebenarnya mungkin kategori sinkhole tapi kecil,” ujar Wahyu Wilopo saat dihubungi.

Ia menjelaskan bahwa kejadian seperti ini tidak terjadi kali pertama. Fenomena serupa kerap muncul, terutama pada musim hujan. “Kita lihat kejadian di Gunungkidul itu bukan suatu yang mengejutkan, karena memang hampir setiap tahun khususnya pada musim hujan itu terjadi amblesan atau sinkhole kecil-kecil mungkin diameternya 1 meter, 2 meter, 3 meter, nah itu sering terjadi di daerah Gunungkidul,” tambahnya.

Penyebab dan Dampak Tanah Ambles

Menurut Wahyu Wilopo, penyebab seringnya kejadian tanah ambles di Gunungkidul berkaitan dengan kondisi geologi wilayah yang didominasi batuan gamping. Batuan jenis ini dikenal mudah larut oleh air.

Prediksi Skor dan Susunan Pemain Liverpool vs Nottingham Forest Liga Inggris 2026/2027

“Biasanya itu akan sangat sering kali ditemukan pada daerah-daerah yang air permukaannya relatif banyak, misalnya persawahan, juga mungkin di rumah-rumah karena membuat septic tank airnya itu ada resapan disitu, nah itu bisa memicu amblesan tadi. Jadi itu yang umum di daerah kawasan karst,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa fenomena tanah ambles tidak hanya terjadi di Gunungkidul, tetapi juga di wilayah lain yang termasuk kawasan karst. “Jadi itu yang umum di daerah kawasan kars, tidak hanya di Gunungkidul. Saya kira Gunungkidul, Pegunungan Sewu sampai daerah Pacitan ke timur, itu hal yang biasa,” ujarnya.

Upaya Penanganan dan Risiko

Terkait penanganan, Wahyu Wilopo menyebut upaya menguruk lubang dengan tanah atau batu masih memungkinkan dilakukan selama ukuran dan kedalaman lubang tidak terlalu besar. Namun, ia menegaskan perlunya survei dan studi mendalam agar langkah tersebut tidak sia-sia.

“Tidak sia-sia itu dalam arti kalau itu nanti lubangnya besar, urukanya kan bisa lari kemana-mana. Atau yang kedua kita anggap itu sudah diuruk rata, nggak tahu di situ itu jalur air, sehingga urukanya tadi malah bisa terbawa air, sehingga nanti runtuh tiba-tiba lagi,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan, jika curah hujan tinggi, lubang tanah ambles berpotensi semakin membesar akibat proses pelapukan batuan dan adanya beban di atasnya. Oleh karena itu, Wahyu Wilopo menyarankan warga untuk sementara menjauh dari lokasi yang terdampak.

Wanda Hamidah Mundur dari One Piece Club Indonesia, Komentar Soal Israel-Palestina

“Iya baiknya amannya (menjauh dulu), sampai nanti dari hasil studi itu menunjukkan memang dibawahnya itu lubangnya kecil, tidak menyalur kemana-mana. Itu mungkin baru tindakan mau di suntik pakai tanah, pakai semen dan lain sebagainya nggak papa,” tambahnya.

Pemilik Rumah dan Respons BPBD

Sebelumnya diberitakan, tanah ambles terjadi di Padukuhan Bolang, Girikarto, Panggang, Gunungkidul, pada Rabu (7/1/2026). Kondisi tersebut memaksa pemilik rumah membongkar bangunannya karena dinilai tidak layak huni.

Pemilik rumah, Sujanto, menjelaskan fondasi bagian belakang rumahnya mengalami penurunan. “Jadi dari belakang pondasinya turun, lalu dicoba pakai bambu, saat dimasukkan itu bumbunya tidak cukup menjangkau,” kata Sujanto kepada wartawan di rumahnya, Jumat (9/1/2026).

Setelah dilaporkan ke pihak RT, dukuh, dan BPBD Gunungkidul, upaya penanganan awal dengan menyiramkan air justru memperparah kondisi. “Kemarin disiram pakai satu tangki airnya amblas semua. (Rumah) Sudah dibongkar semua karena dari BNPB dinyatakan tidak layak huni,” ujarnya.

Dukuh Bolang, Sukirjo, mengungkapkan tanah ambles pertama kali diketahui pada Rabu pagi sekitar pukul 08.00 WIB saat membersihkan rumah. “Dari fondasi ada lubang dan berongga sampai di area dapur sudah ada rongga yang cukup besar. Setelah dicek lebarnya enam meter dengan panjang empat meter. Adapun kedalamannya sekitar tiga meter,” kata Sukirjo kepada wartawan, Jumat (9/1/2026).

Rencana Relokasi SMPN 4 Kota Serang Diperhatikan Alumni

Tindakan Lanjutan oleh BPBD DIY

Wahyu Wilopo mendukung langkah BPBD DIY yang akan melakukan uji geolistrik untuk mengetahui kondisi bawah permukaan tanah di lokasi kejadian. “Biasanya dari hasil geolistrik itu nanti kita bisa mengestimasikan kira-kira lubangnya sebesar berapa dimensinya dan ada pada kedalaman berapa itu biasanya itu akan teridentifikasi dari survei geolistrik. Nanti akan ada anomali dari nilai resistivitasnya, kalau resistivitasnya besar sekali kemungkinan ada tahap lubang,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×