Kenangan yang Tak Pernah Luntur
Lebih dari 20 tahun sejak Munir dibunuh, upaya mencari keadilan tidak pernah absen. Orang-orang terdekatnya mengatakan kepergian Munir tidak meninggalkan kebencian, tapi cinta kasih yang tulus demi menuntaskan satu tujuan: pertanggungjawaban negara. Kado terakhir yang diberikan Munir kepada Suciwati dalam rangka ulang tahun pernikahan mereka ialah tas dan selendang. Munir menyerahkan kedua barang itu tidak lama sebelum keberangkatannya ke Belanda guna meneruskan studi.
Selama hidup, Munir hanya merayakan sepasang momen ulang tahun, kata Suciwati. Yang pertama, ulang tahun pernikahan mereka. Kedua, ulang tahun anak-anaknya. Baik ulang tahun dirinya sendiri maupun Suciwati tidak masuk daftar perayaan. “Yang dia ingat adalah hari pernikahan kami,” ungkap Suciwati seraya tersenyum. Tas serta selendang tersebut masih Suciwati simpan hingga sekarang, begitu pula kenangan lain yang tidak akan dia lupakan sampai kapan pun.
Di bandara, jelang pesawatnya tinggal landas, Munir memeluk Suciwati beserta dua anaknya. Pelukannya terasa hangat sekaligus erat. Satu kalimat lalu keluar dari mulut Munir. “Dia bilang kalau dia sudah menemukan surga,” kenang Suciwati. Mendengar pernyataan Munir, Suciwati hanya bisa berbahagia. Dalam hati, dia tak henti mendaraskan rasa syukur terhadap apa yang Tuhan sediakan kepadanya: keluarga kecil dan cinta kasih dari Munir.
Taman yang semula tumbuh di jiwa Suciwati dengan bunga-bunga bermekaran di atasnya seketika berubah menjadi awan gelap yang bunga-bunga itu layu serta mati. Pada akhirnya: mimpi buruk yang dia tak pernah percayai. Ketika pesawat yang membawa Munir ke Belanda melintasi langit-langit Rumania, racun arsenik telah menyebar ke jaringan tubuhnya dan menghancurkannya. Munir meninggal dunia. Sejak saat itu, Suciwati bertekad menuntaskan satu hal. “Orang yang membunuh suami saya itu harus dicari,” ucapnya. “Dibuktikan dan dibawa ke pengadilan.”
Angan Hidup Tenang di Pedesaan
Bagaimana rasanya hidup dan menikah bersama seorang aktivis yang dikenal lantang melawan ketidakadilan? Suciwati diam sejenak, seolah berupaya menyingkap tirai yang menutupi kenangan demi kenangan dengan suaminya, Munir Said Thalib. Bagi Suciwati, dia mampu kompromi dengan banyak aspek terkait aktivisme yang ditempuh Munir. Meski begitu, Suciwati menyebut satu hal tidak boleh ditawar. Ruang keluarga. Ruang yang berisikan Suciwati serta kedua buah hatinya.
Sesibuk apa pun Munir mengadvokasi kasus-kasus dugaan pelanggaran hak asasi, Suciwati tidak mau urusan keluarga menjadi berantakan. Waktu untuk kedua anaknya, Suciwati memberi contoh, harus tersedia. Komitmen ini sudah disepakati manakala pernikahan di antaranya keduanya terjalin. Munir paham betul dengan ketentuan tersebut. “Karena [waktu] hari libur tiba-tiba saja ada kasus orang yang mengharuskan dia berangkat, dia berangkat. Jadi, bahkan tengah malam pun ketika dia harus pergi, dia pergi,” ungkap Suciwati.
Dalam kondisi demikian, Suciwati meminta Munir mengambil “ganti libur” untuk keluarga. Tujuan kemanusiaan yang terselip dalam setiap langkah kerja-kerja Munir, Suciwati mengakui, merupakan sesuatu yang mendesak. Suciwati bisa mengerti lantaran dia juga dekat dengan dunia aktivis. Akan tetapi, komitmen di luar pekerjaan tidak boleh ditepikan. “Jadi, saya pikir untuk kemanusiaan, apa pun kita bisa lakukan, tapi kita tidak menghilangkan di mana ada komitmen yang sudah dibangun. Kebersamaan itu yang harus juga dijaga,” paparnya.
Hidup bersama Munir membikin Suciwati menyadari betapa “kebersamaan” bukan sebatas kata; dia laku yang berharga. Terlebih, perjalanan aktivisme Munir kerap bersinggungan dengan perkara-perkara yang konsekuensinya tidak kecil. Berbagai ancaman maupun tekanan datang silih berganti serupa bunyi peluru yang memekakkan sudut-sudut ruang yang Suciwati bayangkan sunyi dan menenangkan. Dalam satu kesempatan, Suciwati mengaku pernah memperoleh telepon dari orang tak dikenal yang meminta Munir berhenti menjadi aktivis. Ancaman turut menyeret keluarga besar yang kurang lebih menyerukan pesan senada.
Tekanan semacam itu, tak pelak, memunculkan sejenis perenungan: sejauh mana aktivisme sosial atau politik dapat menyediakan ruang aman kepada mereka yang bergelut di dalamnya? Hati kecil Suciwati tidak menutup kemungkinan soal hidup di luar jalur aktivisme. Keinginan untuk hidup “biasa saja” seperti masyarakat pada umumnya sempat terlintas di benaknya. Kendati begitu, di sisi kenyataan yang lain, Suciwati mengetahui dengan sangat bahwa dia tidak bisa memaksa Munir berhenti. “Pada satu titik [Munir] tidak bisa disuruh diam. Tidak bisa. Dalam arti, itu sudah menjadi DNA-nya,” ujar Suciwati.
Perbincangan tentang peluang untuk “pensiun” sebagai aktivis pernah dilontarkan Suciwati dan Munir. Jika tidak lagi menjadi aktivis HAM, Munir berkeinginan menetap di desa, menurut Suciwati. “Dia mau menjadi petani dan lebih banyak waktu untuk menulis,” imbuh Suciwati. Suciwati menambahkan jalan menuju “hidup tenang” ala Munir akan diwujudkan selama syarat-syaratnya terpenuhi. “Kalau dia itu hanya sederhana. Kalau Indonesia sudah [menjadi] demokratis dan menegakkan HAM, dia pulang kampung,” ujar Suciwati.
Perjalanan Ikan Koi di Kota Batu
Mufid Thalib masih cekatan bergerak kendati usianya telah masuk kepala tujuh. Dia baru saja tiba dari pasar ketika saya bertandang ke kediamannya di Kota Batu, Jawa Timur. Sehari-hari, Mufid banyak menghabiskan waktu untuk berdagang, selain bermain dengan cucu-cucunya. Sajian teh hangat yang dituangkan ke dalam teko berwarna hijau muda memisahkan kami. Mufid menyeruput teh itu sebelum akhirnya berkisah tentang adiknya, Munir Said Thalib.
Pertemuan terakhir dengan sang adik terjadi sekitar satu atau dua minggu sebelum kepergiannya ke Belanda, Mufid mencoba mengingat. Kala itu, Mufid membantu Munir membereskan isi rumah di Kota Batu yang hendak ditinggalkan. Di sela proses pindah rumah, keduanya bercakap soal ayam serta ikan koi milik Munir. Adiknya sedikit gundah akan nasib peliharaannya tersebut. “Kami kalau ngobrol itu yang ringan-ringan saja. Dia [Munir] tidak pernah mengungkapkan sesuatu yang berat kalau kami [saudara-saudaranya] tidak bertanya,” Mufid menjelaskan. “Kemudian saya dapat kabar seperti itu, bahwa Munir meninggal dunia.”
Berita Munir tewas meruntuhkan batin Mufid—begitu pula saudaranya yang lain. Rasa kehilangan menusuk pikiran keluarga Munir. Sebagai anggota keluarga, Munir termasuk dekat dengan kakak serta adiknya yang total berjumlah tujuh orang. Munir anak keenam dari pasangan pedagang, Said Thalib dan Jamilah Umar Thalib. Said Thalib sendiri menghembuskan napas terakhir saat usia anak-anaknya cukup belia. Kepergian sang ayah mengharuskan anggota keluarga Thalib bekerja keras menambal bolong-bolong kebutuhan. Peran “kepala keluarga” lalu diambil alih Mufid dan abang pertamanya, Rasyid.
Mufid berkisah kalau Munir begitu aktif membantu keluarga yang sedang kesulitan ekonomi. Munir, misalnya, ikut berjualan sepatu bersama kakak-kakaknya, termasuk Mufid. Di sisi lain, Munir tak pernah merengek meminta sesuatu yang bakal membikin keluarganya kerepotan. Situasi yang Mufid sebut “penuh keterbatasan” rupanya tidak menghilangkan kebahagiaan yang menempel di diri Munir. Mufid mengingat Munir kecil selalu gembira serta pandai bergaul. Temannya banyak. “Dan saya sendiri tidak tahu cara dia, kepiawaiannya dia, bergaul dengan segala lapisan itu asal-muasalnya dari mana. Yang jelas, dia bergaul dengan baik ke orang lain,” terang Mufid.
Selain anak yang periang dan mudah bergaul, Mufid menilai adiknya selalu punya tekad yang bulat. Walaupun situasi keluarganya dipandang tidak cukup ideal dari aspek ekonomi, Munir punya keinginan besar untuk menempuh pendidikan sampai tingkat tertinggi. Munir membuktikan komitmen tersebut dengan lulus pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dia membawa pulang gelar sarjana hukum. Pilihan mengambil kuliah di bidang hukum diakui Mufid merupakan sesuatu yang unik. Di kalangan keluarga Thalib, Mufid memberi tahu saya, terdapat figur yang sering dijadikan inspirasi. Namanya Mustahar Umar Thalib, dokter di Banyuwangi yang reputasinya dikenal baik di kalangan masyarakat lewat, salah satunya, pendirian rumah sakit.
Ketokohan Mustahar “berimbas ke adik-adik saya,” Mufid menjelaskan. Muncul keinginan untuk “keluar dari kesusahan hidup” setelah menyaksikan bagaimana Mustahar dilimpahi kesuksesan dalam melakoni profesi dokter. Kakak dan adik Munir, pada ujungnya, mengikuti langkah Mustahar. Keduanya menjadi dokter. Berbeda dengan mereka, Munir tidak tertarik. “Dia lari ke [studi] hukum. Ini satu pilihan yang sudah, menurut kalangan kami waktu itu, menyimpang,” ungkap Mufid disusul gelak tawa. Meski demikian, keluarga tidak melarang Munir menempuh studi hukum, termasuk ketika Munir menerapkan ilmu yang dia peroleh ke dunia nyata melalui aktivisme. “Jelas [ada] dilema hati yang tidak bisa kami pungkiri memang ada,” Mufid mengakui. “Tapi, kami sadar juga bahwa apa yang dilakukan Munir dan kami sebagai keluarga tidak ada pilihan lain selain mendukung dan mendoakan.”




Komentar